Sebelumnya pasar ekspor CPO Sumut adalah ke Eropa.Permintaan yang semakin banyak itu diyakini kuat masih berlangsung hingga akhir tahun.
"Permintaan CPO semakin banyak khususnya dari China dan India dan itu menggairahkan pengusaha di tengah fluktuasi harga komoditas itu akibat berbagai faktor termasuk kebijakan AS," kata pengurus Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut, Laksamana Adiyaksa, di Medan, Rabu.
Sejak beberapa tahun terakhir, kata dia, dua negara itu memang menjadi pasar utama CPO Sumut bahkan secara nasional dan dunia menyusul semakin besarnya kebutuhan atas golongan barang tersebut dan membaiknya perekonomian negara tersebut.
"Kondisi itu dipastikan meningkatkan devisa Sumut mengingat golongan barang tersebut juga menjadi ekspor utama," katanya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Suharno, menyebutkan, pada triwulan I 2012 devisa Sumut dari lemak dan minyak hewan/nabatu sudah sebesar 1,112 miliar dolar AS .
Devisa itu naik 32,08 persen dibandingkan periode sama 2011 yang masih 82,639 juta dolar AS.
Meningkatnya perolehan devisa ekspor lemak dan minyak hewan/nabati pada triwulan I 2012 itu menyebabkan kontribusi golongan barang tersebut terhadap total nilai ekspor Sumut semakin besar atau sebesar 42,18 persen.
Golongan barang itu juga menjadi penyumbang terbesar dalam devisa Sumut yang pada triwulan I sudah mencapai 2,638 miliar dolar AS.
Wakil Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia, Derom bangun, mengatakan, tahun ini, India diperkirakan akan membeli 7,1 juta ton CPO atau naik dari tahun lalu yang masih 6,75 juta ton CPO.
Mengingat produksi CPO Indonesia masih mendominasi, dimana tahun ini diperkirakan mencapai 25 juta ton lebih, maka India akan lebih banyak membeli ke Indonesia. Setelah India, pasar potensal CPO nasional adalah China, katanya.
No comments:
Post a Comment